Sabtu, 16 Maret 2013
definisi nilai
Manusia hidup dalam sistem nilai
secara integral. Mulai dari nilai alamiah, sosial-kultural, sampai pada
nilai kebangsaan seperti wawasan nasional, nusantara dan konstitusional.
Secara teoritis makna nilai sesungguhnya terpadu sebagai integritas
kesadaran dan pengamalan oleh manusia untuk sesama manusia dengan
keyakinan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial budaya (horizontal)
dan vertikal kehadapan Sang Pencipta.
Nilai dalam bahasa Inggris adalah value.
Nilai masuk dalam bidang kajian filsafat, yaitu filsafat nilai. Istilah
nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukan kata benda yang
abstrak, yang artinya worlh (keberhargaan) atau goodness (kebaikan). Nilai sendiri memiliki banyak arti bagi beberapa tokoh. Diantaranya adalah sebagaimana uraian berikut ini:
1. Menurut Ralp Perry: “Value as any object of any interest”. Maknanya adalah bahwa nilai sebagai suatu objek dari suatu minat individu.
2. John Dewey menyatakan: “…..value is any object of social interest”. Maknanya adalah bahwa sesuatu bernilai apabila
disukai dan dibenarkan oleh sekelompok manusia (sosial). Dalam hal ini
Dewey mengutamakan kesepakatan sosial (masyarakat, antar manusia,
termasuk negara).
3. Kupperman mendefinisikan nilai adalah patokan normatif yang memperngaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif.
4. Gordon Allport mendefinisikan nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya.
5. Hans Jonas berpendapat bahwa nilai adalah alamat sebuah kata “Ya”.
6. Kluckhohn berpendapat bahwa nilai adalah konsepsi dari apa yang diinginkan, yang memperngaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan.
7. Mulyana mengatakan bahwa nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan.
8. Menurut Purwodarminto, nilai dapat diartikan dalam 5 hal. Lima hal itu adalah: harga dalam taksiran, harga sesuatu, angka kepandaian, kadar/mutu dan sifat-sifat yang penting.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang penting, baik dan berharga.
Dalam nilai terkandung sesuatu yang ideal, harapan yang dicita-citakan
untuk kebajikan. Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan menghubungkan
sesuatu dengan yang lain dan kemudian mengambil keputusan. Sesuatu
dianggap punya nilai jika sesuatu itu dianggap penting, baik dan
berharga bagi kehidupan umat manusia. Baik ditinjau dari segi religius,
politik, hukum, moral, etika, estetika, ekonomi dan sosial budaya.
Senin, 24 Desember 2012
Sosialisasi Tentang BANK Sampah Kampung Barangbang
Sebagai bentuk kepedulian Pemuda dalam organisasi Karang Taruna Kelurahan Muara Ciujung Timur Kecamatan Rangkasbitung, mengadakan program Bank Sampah yang di komandani oleh Sdr.Andi yang merupakan pemuda asal Kp. barangbang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Saya dan Andi melakukan sosialisasi tentang Bank Sampah dari majlis Taklim dan ibu PKK dilingkungan Kelurahan MC Timur
Jumat, 21 Desember 2012
Hari Ibu 2012
Beberapa topik di FB banyak yang berceloteh tentang hari ibu, membuat aku sejenak merenung mengingat ngingat waktu lampau ketika MAMAH, sebutan ku memanggil ibuku tersayang. beliau adalah sosok yang berani dan menyayangi anak-anaknya". Namun sayang kebersamaan kami terhenti tahun 1997 ketika beilau meninggalkan kami untuk selamanya. Mamah adalah sosok yang selalu mengingatkan aku untuk terus menjadi yang terbaik, dan mengejar segala mimpi-mimpiku. Dia adalah sosok yang paling dekat denganku, dan dia tahu apa yang aku rasakan sehingga kadang ketika aku ada masalah atau sakitadia gak usah bertanya apakah kamu sakit atau apa karena dia akan memanggilku dan kemudian bertanya."ada apa ?". Mamah akan tahu jika aku habis berkelahi atau tidak dari gerak-geriku pulang ke rumah. maklumlah waktu kecil, aku sering berkelahi, dan mamah adalah orang yang sering kali hadir ke sekolah ketika aku melakukan perilaku kurang terpuji disekolah.
suatu hari Mamah pernah menawarkanku untuk belajar seni beladiri, bagus untuk anak laki-laki katanya. dan ini kemudian membawa efek positif bagiku karena semenjak itu hobi berkelahiku perlahan hilang, dukungan dan suport selalu mamah berikan untuku membuatku yakin dan percaya diri. kehadiran mamah membuat figur seorang ayah menjadi kurang bermakna bagiku, mungkin karena mamah telah memberikan segalanya bagiku. jadi bisa dibayangkan ketika dia meninggalkanku untuk selamanya, ada perasaan kehilangan dari jiwaku yang sangat dalam...
dipusara mamah, aku berjanji untuk meneruskan dan mewujudkan keinginan mamah. aku masih ingat beberapa bulan setelah mamah meninggal indeks prestasi kuliahku meningkat drastis hingga mencapai 3.9 sampai 4.0, dan ini membuat heran beberapa temanku mengapa nilai ujianku mendadak melonjak drastis dari awal biasa-biasa saja menjadi luar biasa.
kini sudah 15 tahun mamah meninggalkan kami untuk selamanya, namun spirit dan cita-citanya masih ku genggam kuat dan erat....satu janjiku sudah kutepati, untuk menjadi pendidik seperti mamahku tersayang. padahal awalnya aku sudah berkarir sebagai banker di sebuah bank swasta terkenal di indonesia. namun dorongan untuk meneruskan perjuangan mamahku lebih kuat sehingga aku meninggalkan karir di bank untuk menjadi tenaga pendidik (sebuah profesi yang dulu mamah lakukan).
Sabtu, 15 Desember 2012
Jumat, 14 Desember 2012
Dangerous School
Terus terang ketika membaca sebuah buku yang berjudul Dangerous School, dari judulnya saja sudah memancing rasa keingin tahuan, rasa penasaran saya mengapa Irwin A. Hyman dan Pamela Snook mengambil judul seperti diatas. Ternyata buku tersebut merupakan perjalanan kisah mereka selama 30 tahun menjadi School Psychologist yang sering melihat dan mengalami bagaimana keadaan sekolah beserta dinamika didalamnya.
Mereka melihat bagaimana sikap dan perlakuan guru sering salah dan kurang tepat dalam menangani siswanya, seperti misalkan penghukuman fisik kepada siswa ternyata dapat mengakibatkan post traumatic stress disorder dan bahkan gngguan masalah emosional bagi siswa yang mengalaminya. Bahkan dalam beberapa kasus terjadinya komplain dari orang tua murid terhadap guru ybs atau sekolah secara institusional. Hal ini baru-baru ini terjadi di jawa barat bagaimana orang tua yang tidak terima anaknya di potong rambutnya yang gondrong balik memotong rambut guru yang memotong rambut anaknya bersama teman-temanya, kemudian di jawa timur bagaimana seorang guru perempuan di tampar dan di ancam dengan senjata api oleh orang tua murid gara-gara si guru menempeleng si anak karena anak tersebut sudah berperilau diluar batas.
Dalam bukunya dijelaskan bagaiman sifat dan perilaku guru juga sering salah dengan melakukan kesalahan non fisik ada beberapa hal yang sering dilakukan guru seperti :
Dalam bukunya dijelaskan bagaiman sifat dan perilaku guru juga sering salah dengan melakukan kesalahan non fisik ada beberapa hal yang sering dilakukan guru seperti :
- Dalam mendisiplinkan siswa siswa guru kadang melakukan ancaman-ancaman atau intimidasi dengan harapan si anak akan berubah
- Rendahnya kedekatan humanis antara guru dan siswa sehingga membuat siswa tidak mengalami kedekatan secara emosional dengan gurunya. Maka tak heran apa ssaja yang gurunya berikan dan nasehatkan tidak pernah di dengar oleh siswanya. Hal ini sering kali menimpa para guru yang hanya datang ke sekolah mengajar dan merasa tugasnya cukup dengan mengajar, tipe guru yang merasa tugasnya terbatasi hanya pada jam mengajar mereka. padahal seorang guru dituntut lebih dari itu
- Sekolah tidak mampu menyediakan fasilitas dan sarana siswa mengembangkan hobby dan pengembangan kepribadian positif. Seperti diketahui bagaimana manfaat ekstra kurikuler olahraga dalam menyalurkan sifat agresif dan kompetitif siswa disekolah, dan dalam kegiatan olah raga siswa diajarkan nilai-nilai dan rasa sportivitas yang tinggi sehingga anak akan secara tidak sadar menginternalisasikan nilai sportivitas, fairness dan rasa kepercayaan dirrinya dalam kehidupan sehari-hari.
- Sikap guru yang otoriter akan membunuh sikap keberanian dalam pengambilan keputusan serta kreativitas dalam menghadapi situasi ternentu pada siswa.
- guru dengan secara sadar mengucapkan kata-kata hinaan, ejekan atau pencemaran nama baik siswa sehingga si anak akan merasa tidak nyaman atau malu atas perkataan si guru
- Guru kadang tidak mensikapi serius ketika ada fenomena bullying disekolahnya. karena hal itu dipandang sebagai kenakalan biasa. maka tidak aneh ketika bullying ini kian hari kian menjadi-jadi terjadi buka hanya disekolah swasta tetapi juga terjadi deskolah negeri favorit, dan anak-anak yang hasil didikan bulying ini menjadi pelaku utama dala beberapa tawuran yang memakan korban jiwa
- dalam penyelesaian masalah disekolah, guru kadang suka mengkambinghitamkan beberapa siswa yang sering di anggap biang kerok, ini kalau berjalan terus menerus kana membuat kepercayaan diri si anak bermasalah akan hilang dan dia akan merasa dirinya adalah biang kerok dan dia akan eksis dan nyaman dengan predikat tersebut
Busy Hour...
Hari ini Desember tanggal 15 Tahun 2012, UAS semester ganjil sudah usai, sekarang ada setumpuk kerjaan yang harus saya segera selesaikan yaitu antara lain adalah mengisi raport dan memeriksa hasil ujian merekap dan menyetorkan ke Panitia UAS dan Wakasek Kurikulum.
PERSPEKTIF PENDIDIKAN KARKATER
Pendidikan
karakter sebagai sebuah program kurikuler telah dipraktekan di sejumlah negara.
Studi J. Mark Halstead dan Monica J. Taylor (2000) menunjukkan bagaimana pembelajaran dan pengajaran
nilai-nilai sebagai cara membentuk karakter terpuji telah dikembangkan di
sekolah-sekolah di Inggris. Peran sekolah yang menonjol terhadap pembentukan
karakter berdasarkan nilai-nilai tersebut ialah dalam dua hal yaitu:
to
build on and supplement the values children have already begun to develop by
offering further exposure to a range of values that are current in society
(such as equal opportunities and respect for diversity); and to help children
to reflect on, make sense of and apply their own developing values (Halstead dan Taylor, 2000: 169).
Untuk
membangun dan melengkapi nilai-nilai yang telah dimiliki anak agar
berkembang sebagaiamana nilai-nilai
tersebut juga hidup dalam masyarakat, serta agar anak mampu merefleksikan,
peka, dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut, maka pendidikan karakter tidak
bisa berjalan sendirian. Dalam kasus di Inggris, review penelitian tentang
pengajaran nilai-nilai selama dekade 1990-an memperlihatkan bahwa pendidikan
karakter yang diusung dengan kajian nilai-nilai dilakukan dengan program lintas
kurikulum. Halstead dan Taylor (2000: 170-173) menemukan bahwa nilai-nilai yang
diajarkan tersebut juga disajikan dalam pembelajaran Citizenship; Personal, Social
and Health Education (PSHE); dan mata pelajaran lainnya seperti Sejarah,
Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Alam dan Geografi, Desain dan Teknologi, serta
Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
”Karakter warga negara yang baik” merupakan
tujuan universal yang ingin dicapai dari pendidikan kewarganegaraan di
negara-negara manapun di dunia. Meskipun terdapat ragam nomenklatur pendidikan
kewarganegaraan di sejumlah negara (Kerr, 1999; Cholisin, 2004; Samsuri, 2004,
2009) menunjukkan bahwa pembentukan karakter warga negara yang baik tidak bisa
dilepaskan dari kajian pendidikan kewarganegaraan itu sendiri. Sebagai contoh,
di Kanada pembentukan karakter warga negara yang baik melalui pendidikan
kewarganegaraan diserahkan kepada pemerintah negara-negara bagian. Di negara
bagian Alberta
(Kanada) kementerian pendidikannya telah memberlakukan kebijakan pendidikan
karakter bersama-sama pendidikan karakter melalui implementasi dokumen The Heart of the Matter: Character and
Citizenship Education in Alberta Schools (2005). Dalam konteks Indonesia , di
era Orde Baru pembentukan karakter warga negara nampak ditekankan kepada mata
pelajaran seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) maupun Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan (PPKn) bahkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB).
Di era pasca-Orde Baru, kebijakan pendidikan karakter pun ada upaya untuk
”menitipkannya” melalui Pendidikan Kewarganegaraan di samping Pendidikan Agama.
Persoalannya apakah nilai-nilai pembangun
karakter yang diajarkan dalam setiap mata pelajaran harus bersifat ekplisit
ataukah implisit saja? Temuan Halstead dan Taylor (2000) pun menampakkan perdebatan
terhadap klaim-klaim implementasi pengajaran nilai-nilai moral dalam Kurikulum
Nasional di Inggris (terutama di era Pemerintahan Tony Blair). Klaim-klaim
tersebut antara lain menyatakan pentingnya:
·
Sejarah sebagai sebuah
alat untuk membantuk siswa mengembangkan toleransi atau komitmen rasional
terhadap nilai-nilai demokratis.
·
Bahasa
Inggris sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kemandirian dan
menghormati orang lain
·
Pengajaran
Bahasa Modern untuk menjamin kebenaran dan integritas personal dalam berkomunikasi
·
Matematika sebagai alat
untuk membantu siswa mengembangkan tanggung jawab sosial
·
Ilmu
Alam dan Geografi sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan
sikap-sikap tertentu terhadap lingkungan
·
Desain
dan Teknologi sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan nilai-nilai
multikultural dan anti-rasis
·
Ekspresi
Seni sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kualitas fundamental kemanusiaan
dan tanggapan spiritual terhadap kehidupan
·
Pendidikan
Jasmani dan Olah Raga sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan
kerjasama dan karakter bermutu lainnya (diadaptasikan dari Halstead dan Taylor,
2000: 173).
Paparan tersebut
memperkuat alasan bahwa pendidikan karakter merupakan program aksi lintas
kurikulum. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat diselenggarakan sebagai
program kurikuler yang berdiri sendiri (separated
subject) dan lintas kurikuler (integrated
subject). Namun, pendidikan
karakter juga dapat dilaksanakan semata-mata sebagai bagian dari program
ekstra-kurikuler seperti dalam kegiatan kepanduan, layanan masyarakat (community service), maupun program civic voluntary dalam tindakan
insidental seperti relawan dalam mitigasi bencana alam.
Pendidikan
karakter sebagai sebuah program kurikuler dapat didekati dari perspektif
programatik maupun teoritis.
a. Perspektif programatik
1. Habit versus Reasoning.
Beberapa perspektif menekankan kepada pengembangan penalaran dan refleksi moral
seseorang, perspektif lainnya menekankan kepada mempraktikan perilaku kebajikan
hingga menjadi kebiasaan (habitual). Adapula yang melihat keduanya sebagai hal
penting.
2. ”Hard” versus ”Soft”
virtues. Pertanyaan-pertanyaan: apakah disiplin diri, kesetiaan (loyalitas)
sungguh-sungguh penting? atau, apakah kepedulian, pengorbanan, persahabatan
sangat penting? Kecenderungannya untuk menjawab YA untuk kedua pertanyaan
tersebut.
3. Focus on the
individual versus on the environment or community. Apakah karakter yang
tersimpan pada individu ataukah karakter yang tersimpan dalam norma-norma dan
pola-pola kelompok atau konteks? Jawabnya, memilih kedua-duanya (Schaps &
Williams, 1999 dalam Williams, 2000: 35).
b.
Perspektif Teoritis
1. Community of care (Watson)
2. constructivist approach to sociomoral
development (DeVries)
3. child development perspectives (Berkowitz)
4. eclectic
approach (Lickona)
5. traditional perspective (Ryan) (the
National Commission on Character Education dalam Williams, 2000: 36)
D. Instrumen Efektivitas
Pendidikan Karakter
Character
Education Partnership (2003) telah mengembangkan standar mutu Pendidikan
Karakter sebagai alat evaluasi diri terutama bagi lembaga (sekolah/kampus) itu
sendiri. Instrumen berupa skala Likert
(0 – 4) dengan memuat 11 prinsip sebagai berikut:
1. Effective character education promotes core ethical
values as the basis of good character.
2. Effective character education defines “character”
comprehensively to include thinking, feeling and behavior.
3. Effective character education uses a comprehensive,
intentional, and proactive approach to character development.
4. Effective character education creates a caring school
community.
5. Effective character education provides students with
opportunities for moral action.
6. Effective character education includes a meaningful and
challenging academic curriculum that respects all learners, develops their
character, and helps them succeed.
7. Effective character education strives to develop students’
self-motivation.
8. Effective character education engages the school staff
as a learning and moral community that shares responsibility for character education and attempts to adhere to the same core values that guide the education of
students.
9. Effective character education fosters shared moral
leadership and long-range support of the character education initiative.
10. Effective character education engages families and
community members as partners in the character-building effort.
11. Effective character education assesses the character of
the school, the school staff’s functioning as character educators, and the
extent to which students manifest good character. (Character Education
Partnership, 2003:5-15)
Jika
ke-11 prinsip tersebut diadaptasikan
sebagai cara mengukur efektivitas pendidikan karakter di FISE UNY, maka
pendidikan karakter di FISE UNY telah diupayakan untuk:
1. mempromosikan inti nilai-nilai etis sebagai dasar karakter yang baik
(nilai-nilai etis yang pokok dapat berasal dari ajaran agama, kearifan lokal,
maupun falsafah bangsa).
2. mengartikan “karakter” secara utuh termasuk pemikiran, perasaan dan
perilaku (cipta, rasa, karsa dan karya dalam slogan pendidikan di UNY).
3. menggunakan pendekatan yang komprehensif, bertujuan dan proaktif
untuk perkembangan karakter.
4. menciptakan suatu
kepedulian pada masyarakat kampus.
5. memberikan para mahasiswa
peluang untuk melakukan tindakan moral.
6. memasukkan kurikulum
akademik yang bermakna dan menantang dengan menghormati semua peserta didik,
mengembangkan kepribadiannya, dan membantu mereka berhasil.
7. mendorong pengembangan
motivasi diri mahasiswa.
8. melibatkan staf/karyawan
kampus sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggungjawab
untuk pendidikan karakter serta berupaya untuk mengikuti nilai-nilai inti yang
sama yang memandu pendidikan para mahasiswa.
9. memupuk kepemimpinan
moral dan dukungan jangka-panjang terhadap inisiatif pendidikan karakter.
10. melibatkan keluarga dan
anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11. menilai karakter kampus,
fungsi staf kampus sebagai pendidik karakter, dan memperluas kesempatan para
mahasiswa untuk menampilkan karakter yang baik.
Efektivitas
implementasi program juga dipengaruhi oleh bagaimana strategi-strategi
pembelajarannya dilakukan. Ada beberapa
model dan strategi pembelajaran pendidikan karakter yang dapat dipergunkan,
antara lain:
1. Consensus
building (Berkowitz, Lickona)
2. Cooperative
learning (Lickona, Watson, DeVries, Berkowitz)
3.
Literature (Watson, DeVries, Lickona)
4. Conflict
resolution (Lickona, Watson, DeVries, Ryan)
5. Discussing
and Engaging students in moral reasoning.
6. Service
learning (Watson, Ryan, Lickona, Berkowitz) (Williams, 2000: 37)
Di luar model pembelajaran karakter tersebut,
ada beberapa model penting lainnya sehingga pendidikan karakter dapat efektif.
Mengikuti Halstead dan Taylor
(2000), pertama, adalah pendidikan karakter melalui kehidupan sekolah/kampus;
Visi-misi sekolah/kampus; teladan guru/dosen, dan penegakan aturan-aturan dan
disiplin. Model ini menekankan pentingnya dibangun kultur sekolah/kampus
yang kondusif untuk penciptaan iklim
moral yang diperlukan sebagai direct
instruction, dengan melibatkan semua komponen penyelenggara pendidikan. Ini
sebenarnya mirip dengan kesebelas instrumen efektivitas pendidikan karakter
yang dirumuskan oleh Character Education Partnership (2003) di atas.
Kedua,
penggunaan metode di dalam pembelajaran itu sendiri. Metode-metode yang dapat
diterapkan antara lain dengan problem
solving, cooperative learning dan experience-based projects yang
diintegrasikan melalui pembelajaran tematik dan diskusi untuk menempatkan
nilai-nilai kebajika ke dalam praktek kehidupan, sebagai sebuah pengajaran
bersifat formal (Halstead dan Taylor ,
2000: 181). Metode bercerita, Collective
Worship (Beribadah secara Berjamaah),
Circle Time (Waktu lingkaran), Cerita Pengalaman Perorangan, Mediasi Teman
Sebaya, atau pun Falsafah untuk Anak (Philosophy
for Children) dapat digunakan sebagai alternatif pendidikan karakter
(Halstead dan Taylor ,
2000)
Langganan:
Postingan (Atom)







