WELCOME TO SMAN 1 SAJIRA

Profile sekolah yang mulai berdiri pada tahun 2006

SMA NEGERI 1 SAJIRA

Sekolah yang terletak di jalan raya cipanas KM 17 Desa Mekarsari Kecamatan Sajira

Nunu Rahmat nugraha, S.IP

Kunjungan ke Kasepuhan adat di sobang 2010

Nunu Rahmat nugraha, S.IP

Trio Macan hehehehehehe

LPPM STKIP Setia Budhi

Seminar Pra Penerbita Jurnal Ilmiah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung

Ananda Raushan Fikri Nugraha

Rasuhan sedang berenang di Metro Cilegon ketika liburan 2010

Anak-anaku Tim Basket SMAN 1 Sajira

Sebelum latihan anak-anaku Tim Basket Putri SMAN 1 Sajira menyempatkan diri melakukan photo bersama, dengan di pimpin oleh Sunarti pada posisi paling kanan

PADUAN SUARA SMAN 1 SAJIRA

paduan suara SMAN 1 Sajira dibawah pimpinan Bpk. Novi Marcopianto

Upacara pembukaan MABIS 2011

Upacara dipimpin oleh Baga Nugraha

Peserta wanita dalam MABIS 2011

Peserta Grup Putri sedang persiapan melakukan APEL Sore

upacara

Peserta MABIS bersiap-siap mengadakan apel sore

Atraksi dari Ekstra Kurikuler PASKIBRA SMAN 1 Sajira

Beberapa formasi baris-baris ditingkahi oleh sedikit drama menuai aplaus dari para siswa peserta MABIS 2011

Kelahiran Putra Pertama kami di RSUD Kota Cilegon

pada saat anak pertama kami lahir, kondisi ekonomi kami waktu itu masih sangat memprihatinkan. Saya dan istri saya masih CPNS dan mesti terpisah jarak hampir 250 Km, dan hanya akhir minggu kita bisa berkumpul bersama.

Suasana kegiatan belajar mengajar di kelas XI IPS 2

Kelas bersih dan tertib, tampak siswa sedang mengerjakan lebaran kerja

ISTRIKU TERCINTA PIPIT FITRIYANA MUKTIE, SE

Istriku sekarang bekerja sebagai PNS di PEMDA Lebak, di Dinas DisdukCapil.

Upacara Bendera

Upacara Hari senin, tampak bersama saya Bang Kumis alias Pak Memed Sayuti,S.P.d.I

BUAH HATIKU

belajar tentang shalat mudah-mudahan menjadi bekal yang berguna di masa dewasa mereka kelak

Raushan fikri

belajar tentang shalat mudah-mudahan menjadi bekal yang berguna di masa dewasa mereka kelak

TIM FUTSAL SMAN 1 SAJIRA

ASEP, HASAN, NOVIAN, KUDUS DAN DEDE.

Pages

Sabtu, 16 Maret 2013

definisi nilai

Manusia hidup dalam sistem nilai secara integral. Mulai dari nilai alamiah, sosial-kultural, sampai pada nilai kebangsaan seperti wawasan nasional, nusantara dan konstitusional. Secara teoritis makna nilai sesungguhnya terpadu sebagai integritas kesadaran dan pengamalan oleh manusia untuk sesama manusia dengan keyakinan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial budaya (horizontal) dan vertikal kehadapan Sang Pencipta.
Nilai dalam bahasa Inggris adalah value. Nilai masuk dalam bidang kajian filsafat, yaitu filsafat nilai. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukan kata benda yang abstrak, yang artinya worlh (keberhargaan) atau goodness (kebaikan). Nilai sendiri memiliki banyak arti bagi beberapa tokoh. Diantaranya adalah sebagaimana uraian berikut ini:
1. Menurut Ralp Perry: “Value as any object of any interest”. Maknanya adalah bahwa nilai sebagai suatu objek dari suatu minat individu.
2. John Dewey menyatakan: “…..value is any object of social interest”. Maknanya adalah bahwa sesuatu bernilai apabila disukai dan dibenarkan oleh sekelompok manusia (sosial). Dalam hal ini Dewey mengutamakan kesepakatan sosial (masyarakat, antar manusia, termasuk negara).
3. Kupperman mendefinisikan nilai adalah patokan normatif yang memperngaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif.
4. Gordon Allport mendefinisikan nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya.
5. Hans Jonas berpendapat bahwa nilai adalah alamat sebuah kata “Ya”.
6. Kluckhohn berpendapat bahwa nilai adalah konsepsi dari apa yang diinginkan, yang memperngaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan.
7. Mulyana mengatakan bahwa nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan.
8. Menurut Purwodarminto, nilai dapat diartikan dalam 5 hal. Lima hal itu adalah: harga dalam taksiran, harga sesuatu, angka kepandaian, kadar/mutu dan sifat-sifat yang penting.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang penting, baik dan berharga. Dalam nilai terkandung sesuatu yang ideal, harapan yang dicita-citakan untuk kebajikan. Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan menghubungkan sesuatu dengan yang lain dan kemudian mengambil keputusan. Sesuatu dianggap punya nilai jika sesuatu itu dianggap penting, baik dan berharga bagi kehidupan umat manusia. Baik ditinjau dari segi religius, politik, hukum, moral, etika, estetika, ekonomi dan sosial budaya.

Senin, 24 Desember 2012

Sosialisasi Tentang BANK Sampah Kampung Barangbang


Sebagai bentuk kepedulian Pemuda dalam organisasi Karang Taruna Kelurahan Muara Ciujung Timur Kecamatan Rangkasbitung, mengadakan program Bank Sampah yang di komandani oleh Sdr.Andi yang merupakan pemuda asal Kp. barangbang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Saya dan Andi melakukan sosialisasi tentang Bank Sampah dari majlis Taklim dan ibu PKK dilingkungan Kelurahan MC Timur







Jumat, 21 Desember 2012

Hari Ibu 2012

Beberapa topik di FB banyak yang berceloteh tentang hari ibu, membuat aku sejenak merenung mengingat ngingat waktu lampau ketika MAMAH, sebutan ku memanggil ibuku tersayang. beliau adalah sosok yang berani dan menyayangi anak-anaknya". Namun sayang kebersamaan kami terhenti tahun 1997 ketika beilau meninggalkan kami untuk selamanya. Mamah adalah sosok yang selalu mengingatkan aku untuk terus menjadi yang terbaik, dan mengejar segala mimpi-mimpiku. Dia adalah sosok yang paling dekat denganku, dan dia tahu apa yang aku rasakan sehingga kadang ketika aku ada masalah atau sakitadia gak usah bertanya apakah kamu sakit atau apa karena dia akan memanggilku dan kemudian bertanya."ada apa ?". Mamah akan tahu  jika aku habis berkelahi atau tidak dari gerak-geriku pulang ke rumah. maklumlah waktu kecil, aku sering berkelahi, dan mamah adalah orang yang sering kali hadir ke sekolah ketika aku melakukan perilaku kurang terpuji disekolah. 

suatu hari Mamah pernah menawarkanku untuk belajar seni beladiri, bagus untuk anak laki-laki katanya. dan ini kemudian membawa efek positif bagiku karena semenjak itu hobi berkelahiku perlahan hilang, dukungan dan suport selalu mamah berikan untuku membuatku yakin dan percaya diri. kehadiran mamah membuat figur seorang ayah menjadi kurang bermakna bagiku, mungkin karena mamah telah memberikan segalanya bagiku. jadi bisa dibayangkan ketika dia meninggalkanku untuk selamanya, ada perasaan kehilangan dari jiwaku yang sangat dalam...

dipusara mamah, aku berjanji untuk meneruskan dan mewujudkan keinginan mamah. aku masih ingat beberapa bulan setelah mamah meninggal indeks prestasi kuliahku meningkat drastis hingga mencapai 3.9 sampai 4.0, dan ini membuat heran beberapa temanku mengapa nilai ujianku mendadak melonjak drastis dari awal biasa-biasa saja menjadi luar biasa. 

kini sudah 15 tahun mamah meninggalkan kami untuk selamanya, namun spirit dan cita-citanya masih ku genggam kuat dan erat....satu janjiku sudah kutepati, untuk menjadi pendidik seperti mamahku tersayang. padahal awalnya aku sudah berkarir sebagai banker di sebuah bank swasta terkenal di indonesia. namun dorongan untuk meneruskan perjuangan mamahku lebih kuat sehingga aku meninggalkan karir di bank untuk menjadi tenaga pendidik (sebuah profesi yang dulu mamah lakukan).




Jumat, 14 Desember 2012

Dangerous School

Terus terang ketika membaca sebuah buku yang berjudul Dangerous School, dari judulnya saja sudah memancing rasa keingin tahuan, rasa penasaran saya mengapa Irwin A. Hyman dan Pamela Snook mengambil judul seperti diatas. Ternyata buku tersebut merupakan perjalanan kisah mereka selama 30 tahun menjadi School Psychologist yang sering melihat dan mengalami bagaimana keadaan sekolah beserta dinamika didalamnya.

Mereka melihat bagaimana sikap dan perlakuan guru sering salah dan kurang tepat dalam menangani siswanya, seperti misalkan penghukuman fisik kepada siswa ternyata dapat mengakibatkan post traumatic stress disorder dan bahkan gngguan masalah emosional bagi siswa yang mengalaminya. Bahkan dalam beberapa kasus terjadinya komplain dari orang tua murid terhadap guru ybs atau sekolah secara institusional. Hal ini baru-baru ini terjadi di jawa barat bagaimana orang tua yang tidak terima anaknya di potong rambutnya yang gondrong balik memotong rambut guru yang memotong rambut anaknya bersama teman-temanya, kemudian di jawa timur bagaimana seorang guru perempuan di tampar dan di ancam dengan senjata api oleh orang tua murid gara-gara si guru menempeleng si anak karena anak tersebut sudah berperilau diluar batas.

Dalam bukunya dijelaskan bagaiman sifat dan perilaku guru juga sering salah dengan melakukan kesalahan non fisik ada beberapa hal yang sering dilakukan guru seperti :
  1. Dalam mendisiplinkan siswa siswa guru kadang melakukan ancaman-ancaman atau intimidasi dengan harapan si anak akan berubah
  2. Rendahnya kedekatan humanis antara guru dan siswa sehingga membuat siswa tidak mengalami kedekatan secara emosional dengan gurunya. Maka tak heran apa ssaja yang gurunya berikan dan nasehatkan tidak pernah di dengar oleh siswanya. Hal ini sering kali menimpa para guru yang hanya datang ke sekolah mengajar dan merasa tugasnya cukup dengan mengajar, tipe guru yang merasa tugasnya terbatasi hanya pada jam mengajar mereka. padahal seorang guru dituntut lebih dari itu
  3. Sekolah tidak mampu menyediakan fasilitas dan sarana siswa mengembangkan hobby dan pengembangan kepribadian positif. Seperti diketahui bagaimana manfaat ekstra kurikuler olahraga dalam menyalurkan sifat agresif dan kompetitif siswa disekolah, dan dalam kegiatan olah raga siswa diajarkan nilai-nilai dan rasa sportivitas yang tinggi sehingga anak akan secara tidak sadar menginternalisasikan nilai sportivitas, fairness dan rasa kepercayaan dirrinya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Sikap guru yang otoriter akan membunuh sikap keberanian dalam pengambilan keputusan serta kreativitas dalam menghadapi situasi ternentu pada siswa. 
  5. guru dengan secara sadar mengucapkan kata-kata hinaan, ejekan atau pencemaran nama baik siswa sehingga si anak akan merasa tidak nyaman atau malu atas perkataan si guru
  6. Guru kadang tidak mensikapi serius ketika ada fenomena bullying disekolahnya. karena hal itu dipandang sebagai kenakalan biasa. maka tidak aneh ketika bullying ini kian hari kian menjadi-jadi terjadi buka hanya disekolah swasta tetapi juga terjadi deskolah negeri favorit, dan anak-anak yang hasil didikan bulying ini menjadi pelaku utama dala beberapa tawuran yang memakan korban jiwa
  7. dalam penyelesaian masalah disekolah, guru kadang suka mengkambinghitamkan beberapa siswa yang sering di anggap biang kerok, ini kalau berjalan terus menerus kana membuat kepercayaan diri si anak bermasalah akan hilang dan dia akan merasa dirinya adalah biang kerok dan dia akan eksis dan nyaman dengan predikat tersebut

Busy Hour...

Hari ini Desember tanggal 15 Tahun 2012, UAS semester ganjil sudah usai, sekarang ada setumpuk kerjaan yang harus saya segera selesaikan yaitu antara lain adalah mengisi raport dan memeriksa hasil ujian merekap dan menyetorkan ke Panitia UAS dan Wakasek Kurikulum.

PERSPEKTIF PENDIDIKAN KARKATER


Pendidikan karakter sebagai sebuah program kurikuler telah dipraktekan di sejumlah negara. Studi J. Mark Halstead dan Monica J. Taylor (2000) menunjukkan  bagaimana pembelajaran dan pengajaran nilai-nilai sebagai cara membentuk karakter terpuji telah dikembangkan di sekolah-sekolah di Inggris. Peran sekolah yang menonjol terhadap pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai tersebut ialah dalam dua hal yaitu:
to build on and supplement the values children have already begun to develop by offering further exposure to a range of values that are current in society (such as equal opportunities and respect for diversity); and to help children to reflect on, make sense of and apply their own developing values (Halstead dan Taylor, 2000: 169).
 Untuk membangun dan melengkapi nilai-nilai yang telah dimiliki anak agar berkembang  sebagaiamana nilai-nilai tersebut juga hidup dalam masyarakat, serta agar anak mampu merefleksikan, peka, dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut, maka pendidikan karakter tidak bisa berjalan sendirian. Dalam kasus di Inggris, review penelitian tentang pengajaran nilai-nilai selama dekade 1990-an memperlihatkan bahwa pendidikan karakter yang diusung dengan kajian nilai-nilai dilakukan dengan program lintas kurikulum. Halstead dan Taylor (2000: 170-173) menemukan bahwa nilai-nilai yang diajarkan tersebut juga disajikan dalam pembelajaran Citizenship; Personal, Social and Health Education (PSHE); dan mata pelajaran lainnya seperti Sejarah, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Alam dan Geografi, Desain dan Teknologi, serta Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
”Karakter warga negara yang baik” merupakan tujuan universal yang ingin dicapai dari pendidikan kewarganegaraan di negara-negara manapun di dunia. Meskipun terdapat ragam nomenklatur pendidikan kewarganegaraan di sejumlah negara (Kerr, 1999; Cholisin, 2004; Samsuri, 2004, 2009) menunjukkan bahwa pembentukan karakter warga negara yang baik tidak bisa dilepaskan dari kajian pendidikan kewarganegaraan itu sendiri. Sebagai contoh, di Kanada pembentukan karakter warga negara yang baik melalui pendidikan kewarganegaraan diserahkan kepada pemerintah negara-negara bagian. Di negara bagian Alberta (Kanada) kementerian pendidikannya telah memberlakukan kebijakan pendidikan karakter bersama-sama pendidikan karakter melalui implementasi dokumen The Heart of the Matter: Character and Citizenship Education in Alberta Schools (2005). Dalam konteks Indonesia, di era Orde Baru pembentukan karakter warga negara nampak ditekankan kepada mata pelajaran seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) maupun Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) bahkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Di era pasca-Orde Baru, kebijakan pendidikan karakter pun ada upaya untuk ”menitipkannya” melalui Pendidikan Kewarganegaraan di samping Pendidikan Agama.
Persoalannya apakah nilai-nilai pembangun karakter yang diajarkan dalam setiap mata pelajaran harus bersifat ekplisit ataukah implisit saja? Temuan Halstead dan Taylor (2000) pun menampakkan perdebatan terhadap klaim-klaim implementasi pengajaran nilai-nilai moral dalam Kurikulum Nasional di Inggris (terutama di era Pemerintahan Tony Blair). Klaim-klaim tersebut antara lain menyatakan pentingnya:

·         Sejarah sebagai sebuah alat untuk membantuk siswa mengembangkan toleransi atau komitmen rasional terhadap nilai-nilai demokratis.
·         Bahasa Inggris sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kemandirian dan menghormati orang lain
·         Pengajaran Bahasa Modern untuk menjamin kebenaran dan integritas personal dalam berkomunikasi
·         Matematika sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan tanggung jawab sosial
·         Ilmu Alam dan Geografi sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan sikap-sikap tertentu terhadap lingkungan
·         Desain dan Teknologi sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan nilai-nilai multikultural dan anti-rasis
·         Ekspresi Seni sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kualitas fundamental kemanusiaan dan tanggapan spiritual terhadap kehidupan
·         Pendidikan Jasmani dan Olah Raga sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kerjasama dan karakter bermutu lainnya (diadaptasikan dari Halstead dan Taylor, 2000: 173).
Paparan tersebut memperkuat alasan bahwa pendidikan karakter merupakan program aksi lintas kurikulum. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat diselenggarakan sebagai program kurikuler yang berdiri sendiri (separated subject) dan lintas kurikuler (integrated subject). Namun, pendidikan karakter juga dapat dilaksanakan semata-mata sebagai bagian dari program ekstra-kurikuler seperti dalam kegiatan kepanduan, layanan masyarakat (community service), maupun program civic voluntary dalam tindakan insidental seperti relawan dalam mitigasi bencana alam. 
Pendidikan karakter sebagai sebuah program kurikuler dapat didekati dari perspektif programatik maupun teoritis.

     a.  Perspektif programatik 
1. Habit versus Reasoning. Beberapa perspektif menekankan kepada pengembangan penalaran dan refleksi moral seseorang, perspektif lainnya menekankan kepada mempraktikan perilaku kebajikan hingga menjadi kebiasaan (habitual). Adapula yang melihat keduanya sebagai hal penting.
2. ”Hard” versus ”Soft” virtues. Pertanyaan-pertanyaan: apakah disiplin diri, kesetiaan (loyalitas) sungguh-sungguh penting? atau, apakah kepedulian, pengorbanan, persahabatan sangat penting? Kecenderungannya untuk menjawab YA untuk kedua pertanyaan tersebut.
3. Focus on the individual versus on the environment or community. Apakah karakter yang tersimpan pada individu ataukah karakter yang tersimpan dalam norma-norma dan pola-pola kelompok atau konteks? Jawabnya, memilih kedua-duanya (Schaps & Williams, 1999 dalam Williams, 2000: 35).
    b. Perspektif Teoritis 
1. Community of care (Watson)
2. constructivist approach to sociomoral development (DeVries)
3. child development perspectives (Berkowitz)
4. eclectic  approach (Lickona)
5. traditional perspective (Ryan) (the National Commission on Character Education dalam Williams, 2000: 36)
D. Instrumen Efektivitas Pendidikan Karakter
Character Education Partnership (2003) telah mengembangkan standar mutu Pendidikan Karakter sebagai alat evaluasi diri terutama bagi lembaga (sekolah/kampus) itu sendiri.  Instrumen berupa skala Likert (0 – 4) dengan memuat 11 prinsip sebagai berikut:

1. Effective  character education promotes core ethical values as the basis of  good character.
2. Effective  character education defines “character” comprehensively to include thinking, feeling and behavior.
3. Effective  character education uses a comprehensive, intentional, and proactive approach to character development.
4. Effective  character education creates a caring school community.
5. Effective  character education provides students with opportunities for moral action.
6. Effective  character education includes a meaningful and challenging academic curriculum that respects all learners, develops their character, and helps them succeed.
7. Effective  character education strives to develop students’ self-motivation.
8. Effective  character education engages the school staff as a learning and moral community that shares responsibility for character  education and attempts to adhere to the same  core values that guide the education of students.
9. Effective  character education fosters shared moral leadership and long-range support of the character education initiative.
10. Effective  character education engages families and community members as partners in the character-building effort.
11. Effective  character education assesses the character of the school, the school staff’s functioning as character educators, and the extent to which students manifest good character. (Character Education Partnership, 2003:5-15)
Jika ke-11 prinsip tersebut diadaptasikan  sebagai cara mengukur efektivitas pendidikan karakter di FISE UNY, maka pendidikan karakter di FISE UNY telah diupayakan untuk:
1. mempromosikan inti nilai-nilai etis sebagai dasar karakter yang baik (nilai-nilai etis yang pokok dapat berasal dari ajaran agama, kearifan lokal, maupun falsafah bangsa).
2. mengartikan “karakter” secara utuh termasuk pemikiran, perasaan dan perilaku (cipta, rasa, karsa dan karya dalam slogan pendidikan di UNY).
3. menggunakan pendekatan yang komprehensif, bertujuan dan proaktif untuk perkembangan karakter.
4. menciptakan suatu kepedulian pada masyarakat kampus.
5. memberikan para mahasiswa peluang untuk melakukan tindakan moral.
6. memasukkan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang dengan menghormati semua peserta didik, mengembangkan kepribadiannya, dan membantu mereka berhasil.
7. mendorong pengembangan motivasi diri mahasiswa.
8. melibatkan staf/karyawan kampus sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggungjawab untuk pendidikan karakter serta berupaya untuk mengikuti nilai-nilai inti yang sama yang memandu pendidikan para mahasiswa.
9. memupuk kepemimpinan moral dan dukungan jangka-panjang terhadap inisiatif pendidikan karakter.
10. melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11. menilai karakter kampus, fungsi staf kampus sebagai pendidik karakter, dan memperluas kesempatan para mahasiswa untuk menampilkan karakter yang baik.
Efektivitas implementasi program juga dipengaruhi oleh bagaimana strategi-strategi pembelajarannya dilakukan.  Ada beberapa model dan strategi pembelajaran pendidikan karakter yang dapat dipergunkan, antara lain:
1. Consensus building (Berkowitz, Lickona)
2. Cooperative learning (Lickona, Watson, DeVries, Berkowitz)
3. Literature (Watson, DeVries, Lickona)
4. Conflict resolution (Lickona, Watson, DeVries, Ryan)
5. Discussing and Engaging students in moral reasoning.
6. Service learning (Watson, Ryan, Lickona, Berkowitz) (Williams, 2000: 37)
Di luar model pembelajaran karakter tersebut, ada beberapa model penting lainnya sehingga pendidikan karakter dapat efektif. Mengikuti Halstead dan Taylor (2000), pertama, adalah pendidikan karakter melalui kehidupan sekolah/kampus; Visi-misi sekolah/kampus; teladan guru/dosen, dan penegakan aturan-aturan dan disiplin. Model ini menekankan pentingnya dibangun kultur sekolah/kampus yang  kondusif untuk penciptaan iklim moral yang diperlukan sebagai direct instruction, dengan melibatkan semua komponen penyelenggara pendidikan. Ini sebenarnya mirip dengan kesebelas instrumen efektivitas pendidikan karakter yang dirumuskan oleh Character Education Partnership (2003) di atas.
Kedua, penggunaan metode di dalam pembelajaran itu sendiri. Metode-metode yang dapat diterapkan antara lain dengan problem solving, cooperative learning dan  experience-based projects yang diintegrasikan melalui pembelajaran tematik dan diskusi untuk menempatkan nilai-nilai kebajika ke dalam praktek kehidupan, sebagai sebuah pengajaran bersifat formal (Halstead dan Taylor, 2000: 181). Metode bercerita, Collective Worship (Beribadah secara Berjamaah), Circle Time (Waktu lingkaran), Cerita Pengalaman Perorangan, Mediasi Teman Sebaya, atau pun Falsafah untuk Anak (Philosophy for Children) dapat digunakan sebagai alternatif pendidikan karakter (Halstead dan Taylor, 2000)